Kisah Nabi Hud

Kaum ‘Ad hidup di suatu daerah bernama Ahqaf. Negeri itu terletak di utara Hadramaut atau dekat Yaman. ‘Ad termasuk suku yang tertua dan terkenal. Mereka sangat maju dalam pertanian. Hasil buminya melimpah-ruah. Wajarlah bila kaum ‘Ad menjadi kaya raya. Tapi kaum ‘Ad melakukan kesesatan. Mereka memahat batu-batu gunung untuk membuat dua berhala raksasa. Nama berhala itu Samud dan Hattar. Semua penduduk ‘Ad wajib menyembahnya. Mereka juga senang hidup berfoya-foya.

Ajaran Nabi Idris dan Nuh sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa serta cara hidup mereka. Pada kaum ‘Ad yang sesat itulah Nabi Hud lahir. Tapi, nabi Hud tak mau menyembah berhala. Bahkan, dia berani mencaci Samud dan Hattar. Nabi Hud diutus oleh Allah untuk mengajak mereka agar mensyukuri kemakmuran itu dengan beribadah kepada Allah. Bahkan, Nabi Hud memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala sesembahan mereka. Kaum ‘Ad menjadi jengkel dan mencaci-caci Nabi Hud. Hingga akhirnya Nabi Hud mengancam mereka dengan azab Allah.

Tapi, mereka malah tertawa mendengar ancaman azab. Kedurhakaan kaum ‘Ad sudah sangat keterlaluan. Azab Allah tiba dengan mendadak. Kkeringan melanda dan air sangat sulit didapat. Pertanian kaum ‘Ad langsung gagal panen. Lading dan kebun yang dulu hijau kini menguning. Negeri Ahqaf dilanda kemarau yang ganas. Tak ada yang menyangka bencana itu sangat berat. Padahal negeri itu dahulunya sangat subur. Tapi begitulah kekuatan Allah. Hanya dengan sedikit kemarau hancurlah negeri kaum durhaka.

Meski dilanda bencana, kaum ‘Ad semakin sombong. Tak ada yang sudi mengakui kesalahannya. Malahan mereka mengejek dakwah Nabi Hud. Nabi Hud pun menjadi sedih. Kemudian, Nabi Hud dan pengikutnya diperintahkan oleh pemimpin kaum ‘Ad untukditangkap. Tapi, Nabi Hud bias menyelamatkan diri. Orang-beriman juga berhasil menghindar. Mereka menemukan tempat yang aman. Gumpalan awan hitam yang menyelimuti langit negeri Ahqaf, itulah pertanda hujan akan turun.

Saying, hujan yang diharapkan tak kunjung turun. Tak lama kemudian datanglah bencana besar. Angin bertiup keras. Azab yang pedih dating menerjang. Angin topan semakin ganas. Badai topan itu berlangsung berhari-hari. Negeri Ahqaf menjadi negeri mati. Tak ada lagi yang tersisa. Mayat-mayat bergelimpangan. Bangunan roboh berantakan. Semuanya hancur lebur rata dengan tanah. Negeri yang dulu sangat hebat tak bias lagi dihuni. Nabi Hud dan pengikutnya meninggalkan kampong halaman. Mereka menuju Hadramaut dan bermukim di sana.

Source: Al-Qur’anul Karim Dengan Tajwid Blok Warna Disertai Terjemah Kata Per Kata Plus Ensiklomini Anak Saleh, Penerbit Lestari Books

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: